Friday, July 27, 2007

Ibnu Qayyim Al Jauzi

Ibnul Qayyim adalah tokoh pentahkik, al hafidh, pakar usul, fiqih, Nahwu, memiliki hati yang bersemangat tinggi, pakar penulis yang memiliki buah karya banyak. Dia terkenal dengan Syamsuddin (Matahari agama), dijuluki Abu Abdillah, bernama Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'ad bin Huraiz Azzar'i Addimasyqi, Populer dengan julukan Ibnul Qayyim Al Jauzi. Al Jauziyah adalah nama sebuah sekolah yang dibangun oleh Yusuf bin Abdurrahman bin Ali Al Jauzi yang wafat pada tahun 656 H.

Ibnul Qayyim dilahirkan dalam rumah yang mendambakan ilmu pengetahuan dan kemuliaan pada tanggal 7 Shofar tahun 691 H di suatu desa Zar'in termasuk wilayah Hauran sekitar 55 mil dari Damaskus sebelah timurnya. Lantas beliau pindah ke Damaskus (ibu kota Suria), lalu berguru kepada beberapa ulama dan belajar ilmu fara idl dari ayahnya yang menjadi pakarnya. Al Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Addurarul Kaminah 1/472 menyatakan bahwa beliau ahli ibadah, zuhud, wafat pada tahun 723 H.

Ibnul Qayyim belajar ilmu hadits dari Assyihab Annabulsi, Qadli Taqiyyudin bin Sulaiman, Abu Bakar bin Abdul Da'im Isa bin Al Muth'im, Ismail bin Maktum, Fathimah bin Jauhar dan lain-lain. Beliau belajar bahasa arab dari Ibnu Abul Fath Al Ba'li, lalu belajar kitab Al Mulakkhos karya Abul Baqa', Al Jurjaniyah, Al Fiyah Ibnu Malik, Al Kafiyah Assyafiyah, dan At-tashil, lalu belajar kitab Al Muqarrab pada syekh Majdud din Attunisi karya Ibnu Usfur.

Beliau belajar ilmu usul, dan fiqih kepada Syekh Shofiyuddin Al Hindi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syekh Isma'il bin Muhammad Al Harrani, lalu belajar Arraudloh dari karya Ibnu Qudamah Al Maqdasi, Al Ihkam karya Al Aamidi, Al Muhasshol, Al Mahshul, Al Arba'in karya Arrazi, Al Muharrar oleh Ibnu Taimiyah.

Beliau tekun dalam belajar kepada Ibnu Taimiyah sejak kembali dari Mesir tahun 721 H sampai Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada tahun 728 H. Saat itu, beliau masih muda, memiliki kekuatan yang optimal, kecerikan yang sempurna, lalu beliau bisa mengambil dari ilmunya yang luas danmengikuti beberapa ijitahdnya yang matang dan lurus. Beliau sangat sayang kepada gurunya hingga beliau mengambil kebanyakan ijtihadnya, membelanya, dan mengembangkan dalil atas kebenaran yang disampaikan, melemahkan pendapat yang bertentangan dengannya. Beliau sosok yang meringkas kitab-kitab gurunya dan memperluas penyebarannya.

Paling penting beliau juga bisa mengikuti dakwah gurunya Ibnu Taimiyah untuk berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah rasul yang sahih, lalu dipahami sebaigamana pemahaman ulama saleh dan meninggalkan apa yang bersebrangan dengannya, lalu menegakkan beberapa ajaran agama yang telah terpendam dan membersihkan bid'ah yang telah dilakukan kaum muslimin di masa kebekuan, taklid buta dan kemunduran, lalu mengingatkan mereka terhadap beberapa hurafat ahli tasawwuf, mantiq yunani dan kezuhudan penduduk Hindia.

Seorang pembaca akan mengetahui sejauh mana pengaruh gurunya Ibnu Taimiyah kepada Ibnul Qayyim dalam beberapa karangannya yang beraneka ragam yang memberikan ruang untuk penjelasan keharusan berpegangan kepada kitabullah, mempelajari, memahami, dan menjalankan nilai hadits sahih, menghormatinya dan menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya.

Beliau juga aktif dalam menjelaskan rambu-rambu jalan yang lurus yang mengarah kepada ilmu yang benar dan bersih dari campuran kebekuan berpikir dan taklid. Beliau tergolong ulama ahli pikir reformis yang bisa memberi penerangan kepada ulama seperiode dengannya, lalu menerangi hati mereka.

Dalam banyak karangan beliau selalu menjelaskan ciri ahlus sunnah wal jama'ah, menerangkan jalan lurus, jalan tengah antara orang yang mengeraskan agama dan yang meremehkannya terutama tentang sifat-sifat Allah, hak para nabi, perkara halal dan haram, penciptaan, perintah, janji, ancaman, dan bertindak sederhana tentang sunnah Rasul dan mengikutinya dengan sungguh sekalipun banyak kelompok yang menjerumuskannya dari jalan yang benar.

Beliau selalu menelusuri jalan Syekh Ibnu Taimiyah dalam meletakkan dasar global sebagai timbangan yang tepat untuk menimbang apa yang telah terjadi, akan terjadi, baik pendapat, idiologi dan pemikiran. Timbangan tersebut berupa kaidah yaitu : Mencari apa yang diturunkan oleh Allah berupa Al Qur'an dan hikmah dan mengetahui apa yang dikehendaki lafadz Al Qur'an dan hadits sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh para sahabat dan pengikut mereka yang setia. Setelah mengetahui keterangan Rasul, lalu meninjau kembali pendapat ulama dan apa yang mereka kehendaki lalu dicocokkan denga kitab dan hadits agar bisa dideteksi mana yang telah menyimpang dengan kedua pusaka itu dan mana yang menepatinya. Akal yang selalu cocok dengan Rasul dan timbangan yang tepat adalah Al Qur'an.

Menurut beliau jalan yang lurus adalah jalan Allah yang direntangkan kepada hamba-hamba-Nya melalui lidah para Rasul dan dijadikan sebagai tangga untuk mendekat kepada-Nya, bertauhid pada-Nya dalam beribadah, dan memfokuskan ketaatan kepada Rasul. Dalam beribadah beliau tidak syirik, dan dalam taat hanya kepada Rasul. Inilah kandungan pengertian dua kalimat syahadat.

Beliau selalu memerangi taklid tanpa gusar atau putus asa dan mewajibkan berijtihad bagi orang yang mampu yang telah dewasa. Beliau berpendapat bahwa taklid yang dilarang adalah :
  1. Taklid kepada orang yang tidak layak untuk dipegang perkataannya.
  2. Taklid setelah mengambil dalil bahwa perkataan orang yang diikuti keliru


Hal ini telah disekapati oleh seluruh ulama salaf untuk diharamkan atau dihina, dicela. Sedang taklid seseorang yang berupaya untuk mengetahui apa yang diturunkan oleh Allah, lantas sebagiannya masih tidak diketahui, lalu mengikuti kepada orang yang lebih tahu, ia termasuk terpuji.


Pendapat beliau tentang sifat-sifat Allah



Beriman kepada sifat yang telah diterangkan oleh Allah tentang diri-Nya dan apa yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya, lalu dipahami secara harfiah pengertian Al Qur'an atau hadits tanpa perobahan, atau bagaimana Allah diumpamakan dengan sesuatu dari makhluk-Nya. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui tantang diri-Nya daripada makhluk-Nya begitu juga Rasul-Nya. Bila terdapat nas dari Al Qur'an atau hadits untuk menetapkan suatu sifat atau meniadakannya maka bagi seseorang tidak diperkenankan untuk berpindah kepada lainnya baik kepada Qiyas atau pendapat. Berbicara tentang sifat Allah adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat-Nya.

Pendapat sedemikian ini didukung oleh Imam Al Khotthobi dan ulama salaf yang lain, ia juga pendapat terakhir Abul Ma'ali Al Juwaini guru Syekh Imam Ghozali. Dalam kitab Annidlomiyah 23-23 diterangkan bahwa menta'wil sifat khobari Allah dilarang. Beliau menyebutkan bahwa hal itu telah menjadi ijma' ulama salaf. Seandainya ta'wil diperkenankan maka mereka lebih memperhatikan kepadanya daripada lainnya.

Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi berpendapat sebagaimana pendapat ulama ahlus sunnah wal jama'ah bahwa orang-orang muslim yangg fasik memiliki sebagian iman dan asalnya. Mereka tidak memiliki seluruh keimanan yang mengharuskan mereka untuk masuk ke surga. Mereka juga tidak kekal di neraka. Bahkan orang yang memiliki iman seberat biji sawi juga dikeluarkan daripadanya. Rasul juga menyimpan safa'at untuk umatnya yang menjalankan dosa besar.

Beliau berpendapat bahwa kejelekan tidak terdapat dalam sifat Allah atau perbuatan-Nya, begitu juga dzat-Nya. Apa yang dilakukan oleh Allah untuk menghukum sebagian hamba dan menyiksa-Nya semata keadilan-Nya.

Beliau juga menyayangkan beberapa masalah ahli tasawwuf yang bertentangan dengan syariat seperti pendapat manunggaling gusti, syariat tidak boleh dijalankan, perbedaan syariat dan hakikat, beribadah dengan hal yang tidak diizinkan Allah, berhukum kepada perasaan, menyisihkan ilmu dan mengurangi kepentingannya, bertawakal yang keterlaluan, uzlah dan tidak mau kawin.

Beliau juga berpendapat bahwa akad itu tergantung dari maksud dan hakikatnya tidak sekedar perkataan atau perbuatan. Tujuan inilah yang menjadi inti akad, sebab sah atau tidaknya. Tujuan dianggap masalah penting dalam akad daripada perkataan. Banyak juga dalil syara' yang menyatakan bahwa tujuan harus dihormati dalam akad, ia berpengaruh terhadap halal atau haramnya akad tersebut. Dua orang yang melakukan akad bila menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, maka yang dianggap adalah apa yang di dalam hatinya.

Beliau berpendapat bahwa perubahan fatwa disesuaikan dengan keadaan, zaman dan tempat, niat dan bahaya dan manfaatnya. Beliau berkata : Sesungguhnya bodoh tentang hal itu adalah kesalahan besar yang bisa menimbulkan masalah dan penderitaan. Sesungguhnya syariat selalu berlandaskan kepada beberapa hikmah dan kemaslahatan baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Seluruhnya bersifat adil, belas kasih, maslahat dan hikmah. Beliau juga menyebutkan beberap misal tentang hal itu.

Beliau berpendapat bahwa dua orang yang mengadakan akad bebas untuk memberikan syarat yang dikehendaki asal tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akad sah atau tidak, tergantung beberapa syarat. Ia merupakan hal yang dibutuhkan begitu juga kemaslahatan. Beliau berpendapat berhelah kepada pengertian umum syariat adalah tidak dibenarkan. Beliau telah menyampaikan beberapa dalil untuk membatalkan hukum helah ini. Dan beliaumenolak segala hujjah orang yang memperbolehkannya. Dalam hal ini beliau berlandaskan dengan beberapa ayat Al Qur'an, hadits Nabi, dan perkataan para imam atau sahabat.

Beliau berpendapat wajib mendahulukan hak orang yang dihutangi dan pihak penghutang bila hartanya diperkirakan habis untuk membayar hutangnya tidak sah pemberiannya. Bola pihak penghutang mentassarufkan harta dengan cara seperti itu, maka bagi hakim diperbolehkan untuk membatalkan tindakan pihak penghutang itu.


Murid-muridnya



  1. Al Hafish Abul Faraj, Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al Hambali, seorang ulama yang zuhud, tokoh kepercayaan, penulis handal dalam bidang hadits, fiqih dan sejarah. Beliau aktif mengikuti ajaran Ibnul Qayyim sampai meninggal dunia.

  2. Ibnu Katsir Al Basri Addimasyqi terkenal ahli hadits dan memiliki karangan banyak. Paling besar adalah Bidayah Wannihayah. Dalam mu'jam Addzahabi beliau adalah mufti yang alim, pakar fiqih, pentafsir, meninggal dunia pada tahun 774 H.

  3. Ibnu Qudamah Al Maqdasi, penyusun kitab Al Mughni. Beliau terkenal pakar hadits, baik perawi ataupun illat hadits. Beliau juga mufti. Imam Dzahabi berkata : "Setiap aku berkumpul dengannya, aku selalu mengambil manfaat daripadanya". Beliau wafat pada tahun 744 H.

  4. Syekh Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhyiidin Annabulsi Al Hambali. Beliau dilahirkan di Nabuls, berguru kepada Syekh Abdullah bin Muhammad bin Yusuf, lalu pergi ke Damaskus dan belajar kepada Ibnul Wayyim. Beliau disebut benteng karena banyak ilmunya. Wafat pada tahun 767 H.

  5. Ibrahim, putra Ibnul Qayyim Al Jauzi. Imam Dzahabi menjelaskan dalam kitab mu'jamnya : Ibrahim telah belajar kepada ayahnya, lalu pandai dalam bahasa arab. Ibnu Katsir berkata : Dia figur utama dalam bidang nahwu, dan fiqih menurut jalan ayahnya, wafat pada tahun 767 H.

  6. Anaknya yang bernama Abdullah, julukannya Syarafuddin. Beliau belajar di Shodriyah - sekolah ayahnya, lalu menyusun buku tentang keutamaan ilmu dan pelajar.



Pujian ulama



Setiap ilmuwan yang menjelaskan tentang biografi Ibnul Jauzi selalu menyatakan keutamaan dan kemuliaannya, luas ilmunya tinggi derajatnya.

Al Hafidh Ibnu Rajab berkata : "Ibnul Qayyim seorang pakar tafsir yang sulit ditandingi, pakar usuliddin, sulit didapat duanya, pakar hadits, paham makna dan fiqihnya serta makna yang jeli di dalamnya, pakar fiqih, usul fiqih, pakar bahasa, ilmu kalam, dan perkataan ahli tasawwuf, isyarat dan makna yang jeli dari mereka. Beliau ahli ibadah, selalu bertahajud di malam hari, panjang dalam melaksanakan shalat, selalu berdzikir, cinta mendekat dan butuh kepada Allah, tekun dalam beribadah, tunduk merunduk kepada-Nya. Aku belum menjumpai orang yang sama dengannya, aku tidak menjumpai orang yang memiliki ilmu yang lebih luas daripadanya, atau lebih mengerti tentang makna Al Qur'an."

Al Hafidh Adzzahabi berkata : "Beliau sangat antusias mempelajari hadits, matan dan rijalnya, lalu belajar ilmu fiqih, nahwu, usul fiqih, dan menjadi pakarnya, lalu bersungguh-sungguh dalam menyebarluaskan ilmu."

Ibnu Katsir berkata : "Beliau pakar dalam banyak bidang ilmu lebih lebih dalam tafsir dan hadits. Ketika Ibnu Taimiyah kembali dari Mesir pada tahun 712 H, maka beliau ikut belajar di sisinya sampai Ibnu Taimiyah meninggal dunia. Beliau bisa mengambil banyak ilmu disamping ilmu yang telah dicapainya, jadi beliau termasuk figur yang unik dalam berbagai bidang disamping setiap siang malam selalu menuntut ilmu, dan banyak berdzikir. Beliau juga baik dalam tilawatil Qur'an, berakhlak mulia, suka bergaul dengan teman, dan kasih kepada mereka, tidak pernah hasud kepada seseorang dan tidak pula menyakiti, tidak dengki, dan aku belum mengetahui seorang alim di masa kita ini yang melebihinya."

Ibnu Nasir Addimasqi berkata : Muhammad bin Al Muhib berkata dengan tulisan tangannya : aku berkata di muka guruku Al Mizzi : Ibnul Qayyim sederajat dengan Ibnu Huzaimah ? Beliau menjawab : "Dia pada saat ini sepertu Ibnu Huzaimah di masanya."

Al Qadli Burhanuddin Azzar'i berkata : "Di bawah kolong langit ini tidak dijumpai seseorang yang luas ilmunya seperti Ibnul Qayyim. Beliau belajar di Shodriyah, sangat cinta kepada ilmu, membaca kitab-kitab, mengarang, dan suka menyimpan buku dan jarang perpustakaan buku yang lebih besar dari pada perpustakaannya."

Al hafidh Ibnu hajar berkata : "Beliau sangat berani, memiliki ilmu yang luas, pandai masalah hilaf dan madzhab kaum salaf."

Pengarang kitab Nailul Atthor berkata : "Beliau terkendali dengan dalil-dalil yang sahih, sangat antusias menjalankannya dan tidak berpegangan kepada pendapat, selalu menegakkan kebenaran dan tidak berpihak kepada seseorang."


Buku Karyanya



Beliau mengarang banyak buku sampai lebih dari 60(enam puluh) buah buku dalam berbagai bidang ilmu, ada yang sampai beberapa jilid dan ada yang cukup satu jilid. Seluruhnya baik dan berguna. Kitab-kitab beliau diantaranya :
  1. I'lamul Mauqi Ain An Rabbil Alamin.
  2. Atthuruq Al Hukmiyah Fis Siyasah Assyariyah.
  3. Ighotasul Lahfan Fii Ma Kayidis Syaithon.
  4. Tuhfatul Maudud Fii Ahkamil Maulud.
  5. Ahkamu Ahlid Dzimmah.
  6. Al Furusiyah.
  7. Tahdzib Sunan Abu Dawud.
  8. Zadul Ma'ad.
  9. Ijtima Ul Juyus Al Islamiyah Alaa Ghozwil Mu Atthilah Wal Jahmiyah.
  10. Asshowa Iq Al Mursalah Alal Jahmiyah Wal Mu Atthilah.
  11. Syifa Ul Alil Fii Masa Ilil Qadlo' Wal Qadar.
  12. Hidayatul Hayara Minal Yahud Wannashoro.
  13. Hadil Arwah Illa Biladil Afrah.
  14. Kitabur Roh.
  15. Mada Rijus Salikin.
  16. Uddatus Shobirin Wadzakhiratus Syakirin.
  17. Adda' Waddawa'.
  18. Al Wabilus Shoyyib Minal Kalimit Thoyyib.
  19. Attibyan Fii Aqsamil Qur'an.
  20. Bada 'Iul Fawa'id.
  21. Al Fawa'id.
  22. Jala'ul Afham Fis Shalat Ala Khoiril Anam.
  23. Raudlotul Muhibbin.
  24. Thoriqul Hijratin Wababus Sa Adatain.
  25. Miftahu Daris Sa'adah.



Wafat



Beliau wafat pada malam Kamis di saat Isya' pada tanggal 23 Rajab 751 H. Besok paginya dishalati di Masjid Jami' Damaskus, lalu di Masjid Jami' Al Jarrah dekat dengan makamnya. Makamnya terkenal hingga sekarang. Ia di kiri orang yang masuk ke makam di pintu baru yang telah diperluas sejak dua puluh tahun.

1 comments:

Anonymous said...

artikel yang bagus,bisa minta caranaya bauat header dan mengisinya,bayulove21@yahoo.co.ide