Lewat sudah hari raya qurban (Idul Adha) beberapa waktu lalu. Ada beberapa kejadian yang saya lihat dan dengar di masjid kami.
Dari mulai rapat panitia, pertama kali yang menjadi permasalahan adalah uang. Tentu saja untuk membeli kambing atau sapi membutuhkan uang yang tidak sedikit dan diperlukan pengorbanan yang besar. Untuk jenis hewan korban sapi, dibutuhkan iuran dari 7 orang untuk membeli sapi karena memang harga sapi lebih dari 7x lipat kambing. Ternyata yang mendaftar untuk korban sapi ada 30 orang, berarti nanti jadinya 4 sapi. Tapi masih sisa 2 orang. Beberapa panitia mengusulkan agar kulit dari 4 sapi + 1 calon sapi dijual untuk kemudian digunakan untuk membeli 1 calon sapi tersebut (ditambah sisa dari 2 orang).
Saya perjelas lagi, berarti panitia membeli seekor sapi dengan uang muka dari 2 orang sisa tadi dan kemudian melunasinya setelah semua sapi dipotong, diambil kulitnya, kemudian dijual.
Saya tidak tahu hukum / dalil yang sebenarnya soal "berkorban dengan hutang". Kalau itu benar-benar korban, maka buat saya itu aneh. Yang sempat saya ketemu dalilnya adalah :
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai." (Q.S. Ali Imran [03]: 92).
Apakah hutang adalah sesuatu yang pantas dicintai dan dianjurkan untuk melakukannya ? Saya kira TIDAK. Apalagi untuk berkorban di Idul Adha.
Apabila dicermati lagi, ada hewan yang dikorbankan berarti ada sohibul korbannya. 2 orang yang ikut iuran jelas-jelas jadi sohibul korban. Tetapi yang 5 bagian itu milik siapa ? Karena yang 5 itu sebagian diambil dari kulit 4 sapi, maka 28 orang yang iuran untuk 4 sapi tersebut merupakan sohibul korban juga. Dan kemudian sohibul korban dari kulit 1 calon sapi adalah ke 30 orang (28 orang dari 4 sapi + 2 orang sisa iuran). Atau mungkin Anda punya pendapat lain ?
Setelah penyembelihan, maka hewan korban dikuliti dan dicacah dagingnya. Ada 2 hal yang menjadi perhatian saya :
- Banyak orang dari luar masjid kami yang meminta jatah daging dan memang mereka berhak menerimanya. Dan panitia menerima banyak sekali permintaan entah itu melalui surat maupun datang langsung pada saat penyembelihan. Dan tidak jarang ada yang dari tempat sangat jauh dan panitia tidak sempat mensurvey apakah daerah tersebut layak menerima atau tidak. Sebagian dari daging hewan korban diberikan kepada sang sohibul, sebagian lainnya untuk penduduk sekitar, sebagian lainnya diberikan kepada orang / daerah yang meminta (setelah disortir tentunya), dan kemudian untuk jatah panitia, sisanya dimasak di situ untuk dimakan bersama.
Kok saya mengesankan bahwa fakir miskin mendapatkan urutan ketiga ya ? Karena memang begitulah kejadiannya ! Rumah kami yang terdiri dari 4 keluarga mendapatkan 4 bagian dan itu sangat banyak ! Bukannya kami sombong, tapi saya kira - kami - dan juga penduduk sekitar kami, sudah terlalu sering makan daging (paling tidak lebih mudah untuk mendapatkan daging dengan standar daya beli yang ada). Kenapa harus diutamakan ?
Sementara itu pada saat pencacahan yang dilakukan oleh ibu-ibu, masih ada saja yang menyembunyikan daging yang dicacah untuk dibawa pulang (bahkan sebelum berangkat mereka sudah menyiapkan tas kresek..). Ini adalah pencurian. Padahal seperti saya tulis di atas, mereka sudah sering makan daging tapi masih saja mencuri. Masya Allah !
Ditambah lagi kenyataan pada saat itu banyak peminta-minta yang mengantri menunggu. Wah, kok ibu-ibu itu nggak malu ya ?
Setelah itu masih ada lagi acara makan-makan bersama dan ini adalah ritual puncak hari raya Idul Adha di tempat kami. Indah... penuh kebersamaan... sekaligus memprihatinkan... - Pada akhir acara, kabarnya ada seorang panitia yang meminta uang Rp. 500 ribu untuk dibagikan kepada 23 orang yang tidak jelas siapa saja orangnya (tidak ada di laporan). Katanya sih ini uang sabun. Saya sendiri tidak tahu maksudnya dan banyak yang juga tidak tahu maksudnya tetapi katanya "Biarlah, memang bapak itu biasa begitu.."
Begitulah sekilas mengenai korban di tempat kami. Di hari raya yang sakral dan seharusnya dijadikan sarana untuk benar-benar ikhlas berkorban, malah dijadikan ajang maksiat.
Di pengajian cermin (pengajian bapak-bapak muda), akan kami usahakan bahwa panitia untuk tahun depan dipegang oleh para bapak-bapak muda dan para pemuda karena kenyataannya memang yang lebih muda biasanya lebih kritis dalam menerapkan hukum, apalagi untuk acara keagamaan. Amin !






0 comments:
Post a Comment