alangkah indah jika diri mampu mengisi setiap hembusan nafas dengan bertasbih..

Thursday, January 17, 2008

Listrik oh listrik...

Dari sore kemarin saya kelimpungan, bingung 7000 keliling. Inverator 1000 watt saya tidak kuat, plastik pembungkus bagian bawah sampai berlubang dan meleleh, mengeluarkan asap dan panas sekali. Langsung saja saya buang alat itu.

Inverator adalah suatu alat untuk menahan lonjakan listrik. Ini biasa terjadi apabila kita menghidupkan layar (monitor atau tv), pompa air, dan sebagainya.

Efeknya, dari semalam saya tidak bisa menghidupkan komputer. Padahal saya dapat order install 2 laptop (untung saja laptop, jadi tidak terlalu butuh listrik yang banyak). Dan untungnya program-program utama yang saya butuhkan ada di flashdisk. Kemudian saya colokkan saja motorola ke laptop dan dial ke centrin via xl trus download program-program lain yang dibutuhkan. Lumayan tambah lama sih, tapi gimana lagi, malam-malam mau beli inverator di mana ?

Selesai 1 laptop, kemudian saya cloning ke laptop kedua. Ini juga banyak suka dukanya, sebab ternyata Norton Ghost 2003 tidak bisa mengenali harddisk SATA si laptop. Tapi ini ceritanya di artikel berikutnya aja ya :-))

Adzan dzuhur berbunyi dan selesailah tugas saya. Lumayan lama bukan ? Baru kali ini saya menginstall 2 komputer selama itu. Saya bungkus dua laptop itu dan saya antar. Pulangnya saya beli inverator, tidur dan kemudian menulis story ini.

Susah juga jadi teknisi, but it's fun, really ! Banyak hal-hal baru yang bakal kita jumpai walaupun yang kita hadapi hanyalah sebuah komputer. Ada saja masalah, tetapi justru itu yang membuat kita belajar. Jadi terima saja, hadapi, cari jalan keluarnya dengan senang hati !

Terus semangat !!!

Omong-omong, ini posting pertama saya soal kerjaan ya ?

Saturday, January 12, 2008

Tarif Warnet

Saya dulunya adalah pengunjung setia warnet, walaupun tidak menetap di suatu warnet tertentu. Dari sekian banyak warnet, saya melihat ada kejanggalan di sistem tarifnya.

Biasanya pada sistem pentarifan warnet terdapat hal-hal (di antaranya) sebagai berikut :


  1. Tarif minimum
    Apabila ternyata biaya akses seorang user kurang dari Tarif minimum ini, maka user itu akan dikenai tarif sebesar tarif minimum tersebut. Otomatis ini juga akan memberikan waktu minimum bagi user tersebut.

    Misalnya saja Tarif minimum = Rp. 1000
    Tarif normal per jam = Rp. 2500
    Maka Waktu minimum = (1000/2500) * 60 = 24 menit.

    Dari contoh di atas, waktu efektif untuk mengakses internet di warnet tersebut adalah 24 menit. Biasanya tarif/waktu minimum tidak diberitahukan ke user secara terang-terangan.

    QS 4. An Nisa : 29
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

  2. Pembulatan
    Pembulatan dimaksudkan supaya harga yang dibayarkan oleh user menjadi bulat. Kalau di swalayan / toko kita jarang menjumpai pembulatan ini, justru harga nanggung memberikan peluang ke penjualan permen sebagai kembalian, he he he. Di warnet biasanya harga dibulatkan, maksudnya sih supaya sang operator menjadi lebih mudah memberikan kembalian. Tapi ini tetap sama saja dengan di swalayan / toko, bedanya cuma op warnet tidak akan memberi Anda permen.

    Hati-hati dengan pembulatan yang terlalu besar. Pembulatan ke Rp. 100 sepertinya masih wajar. Tapi pembulatan ke Rp. 500 itu sudah kurang ajar (ada yang beralasan karena menyediakan recehan Rp. 100 untuk kembalian semakin susah).

  3. Tarif : Rp. 0
    Program billing menampilkan durasi yang terus bertambah tetapi tarif yang tetap saja Rp. 0. Ini bisa terjadi karena :
    - Billing Error, atau...
    - Tarif dihitung manual sehingga di 0 (nol) kan

    Kemungkinan yang kedua itulah yang patut dipertanyakan. Biasanya tarif yang tidak terbuka semacam ini dimaksudkan agar operator bebas mengubah tarif sesuai ketentuan dan perintah dari sang bos. Misalnya Anda kedapatan mendownload file dari internet, Anda menggunakan flashdisk, dsb, Anda akan dikenai tarif tambahan tanpa sepengetahuan Anda.



Bagi Anda pengusaha warnet, berusahalah untuk lebih terbuka dan fair dalam memberikan tarif.

QS 26. Asy Syu'araa' : 181-183
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;

Sunday, January 6, 2008

Masya Allah ! (Idul Adha)

Lewat sudah hari raya qurban (Idul Adha) beberapa waktu lalu. Ada beberapa kejadian yang saya lihat dan dengar di masjid kami.

Dari mulai rapat panitia, pertama kali yang menjadi permasalahan adalah uang. Tentu saja untuk membeli kambing atau sapi membutuhkan uang yang tidak sedikit dan diperlukan pengorbanan yang besar. Untuk jenis hewan korban sapi, dibutuhkan iuran dari 7 orang untuk membeli sapi karena memang harga sapi lebih dari 7x lipat kambing. Ternyata yang mendaftar untuk korban sapi ada 30 orang, berarti nanti jadinya 4 sapi. Tapi masih sisa 2 orang. Beberapa panitia mengusulkan agar kulit dari 4 sapi + 1 calon sapi dijual untuk kemudian digunakan untuk membeli 1 calon sapi tersebut (ditambah sisa dari 2 orang).

Saya perjelas lagi, berarti panitia membeli seekor sapi dengan uang muka dari 2 orang sisa tadi dan kemudian melunasinya setelah semua sapi dipotong, diambil kulitnya, kemudian dijual.

Saya tidak tahu hukum / dalil yang sebenarnya soal "berkorban dengan hutang". Kalau itu benar-benar korban, maka buat saya itu aneh. Yang sempat saya ketemu dalilnya adalah :

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai." (Q.S. Ali Imran [03]: 92).

Apakah hutang adalah sesuatu yang pantas dicintai dan dianjurkan untuk melakukannya ? Saya kira TIDAK. Apalagi untuk berkorban di Idul Adha.

Apabila dicermati lagi, ada hewan yang dikorbankan berarti ada sohibul korbannya. 2 orang yang ikut iuran jelas-jelas jadi sohibul korban. Tetapi yang 5 bagian itu milik siapa ? Karena yang 5 itu sebagian diambil dari kulit 4 sapi, maka 28 orang yang iuran untuk 4 sapi tersebut merupakan sohibul korban juga. Dan kemudian sohibul korban dari kulit 1 calon sapi adalah ke 30 orang (28 orang dari 4 sapi + 2 orang sisa iuran). Atau mungkin Anda punya pendapat lain ?

Setelah penyembelihan, maka hewan korban dikuliti dan dicacah dagingnya. Ada 2 hal yang menjadi perhatian saya :


  1. Banyak orang dari luar masjid kami yang meminta jatah daging dan memang mereka berhak menerimanya. Dan panitia menerima banyak sekali permintaan entah itu melalui surat maupun datang langsung pada saat penyembelihan. Dan tidak jarang ada yang dari tempat sangat jauh dan panitia tidak sempat mensurvey apakah daerah tersebut layak menerima atau tidak. Sebagian dari daging hewan korban diberikan kepada sang sohibul, sebagian lainnya untuk penduduk sekitar, sebagian lainnya diberikan kepada orang / daerah yang meminta (setelah disortir tentunya), dan kemudian untuk jatah panitia, sisanya dimasak di situ untuk dimakan bersama.

    Kok saya mengesankan bahwa fakir miskin mendapatkan urutan ketiga ya ? Karena memang begitulah kejadiannya ! Rumah kami yang terdiri dari 4 keluarga mendapatkan 4 bagian dan itu sangat banyak ! Bukannya kami sombong, tapi saya kira - kami - dan juga penduduk sekitar kami, sudah terlalu sering makan daging (paling tidak lebih mudah untuk mendapatkan daging dengan standar daya beli yang ada). Kenapa harus diutamakan ?

    Sementara itu pada saat pencacahan yang dilakukan oleh ibu-ibu, masih ada saja yang menyembunyikan daging yang dicacah untuk dibawa pulang (bahkan sebelum berangkat mereka sudah menyiapkan tas kresek..). Ini adalah pencurian. Padahal seperti saya tulis di atas, mereka sudah sering makan daging tapi masih saja mencuri. Masya Allah !

    Ditambah lagi kenyataan pada saat itu banyak peminta-minta yang mengantri menunggu. Wah, kok ibu-ibu itu nggak malu ya ?

    Setelah itu masih ada lagi acara makan-makan bersama dan ini adalah ritual puncak hari raya Idul Adha di tempat kami. Indah... penuh kebersamaan... sekaligus memprihatinkan...


  2. Pada akhir acara, kabarnya ada seorang panitia yang meminta uang Rp. 500 ribu untuk dibagikan kepada 23 orang yang tidak jelas siapa saja orangnya (tidak ada di laporan). Katanya sih ini uang sabun. Saya sendiri tidak tahu maksudnya dan banyak yang juga tidak tahu maksudnya tetapi katanya "Biarlah, memang bapak itu biasa begitu.."



Begitulah sekilas mengenai korban di tempat kami. Di hari raya yang sakral dan seharusnya dijadikan sarana untuk benar-benar ikhlas berkorban, malah dijadikan ajang maksiat.

Di pengajian cermin (pengajian bapak-bapak muda), akan kami usahakan bahwa panitia untuk tahun depan dipegang oleh para bapak-bapak muda dan para pemuda karena kenyataannya memang yang lebih muda biasanya lebih kritis dalam menerapkan hukum, apalagi untuk acara keagamaan. Amin !